JAMBE BALI

SEJARAH PASEMETONAN JAMBE SE-BALI

WARIH KYAI ANGLURAH JAMBE MERIK

PRATISENTANA SRI ARYA KENCENG

  1. Kyai Anglurah Jambe Pule / Anglurah Bebed Raja Badung I

Setelah Dinasti Tegeh Kori runtuh, yang menjadi penguasa di Badung adalah Kyai Anglurah Jambe Pule / Anglurah Bebed Putra dari Kyai Notor Wandira dan beliau bergelar Prabu Bandana. Beliau berputra 6 (enam) yaitu 3 putra dan 3 putri :

  1. Kyai Gede Mangku Beribu Bujangga Tumbak Banyuh
  2. Kyai Anglurah Macan Gading Beribu Warih Kyai Penataran Bebandem
  3. Kyai Anglurah Jambe Merik Beribu Prami Warih Pascima Jambe Harum
  4. I Gusti Ayu Jambe kawin dengan Dalem di Made Puri Gelgel
  5. I Gusti Ayu Made kawin dengan Kyai Agung Badeng Kapal
  6. I Gusti Ayu Nyoman kawin dengan I Dewa Bagus Kesiman 

Pada pemerintahan Kyai Anglurah Jambe Pule sebagai raja Badung I, beliau membangun 3 Puri untuk ketiga putra – putranya :

  1. Puri Gelogor untuk putranya Kyai Gede Mangku / Anglurah Gelogor sebagai cikal bakal Para Agung Gelogor
  2. Puri Pemecutan untuk putranya Kyai Macan Gading / Anglurah Pemecutan yang menurunkan Para Agung Warga Ageng Pemecutan
  3. Puri Alang Badung untuk putranya Kya Anglurah Jambe Merik yang menurunkan Para Warih Jambe

Pada pemerintahan Kyai Jambe Pule, juga terjadi kekacauan di uri Gelgel yaitu perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh I Gusti Agung Maruti terhadap pemerintahan Dalem Di Made yang tidak lain adalah menantu dari Kyai Anglurah Jambe Pule dan puncaknya Dalem Di Made meninggal dalam pelarian ke Desa Guliang

Melihat situasi seperti ini diutuslah Kyai Anglurah Macan Gading untuk membantu keponakannya I Dewa Agung Jambe untuk merebut kembali kerajaan Gelgel yang telah dikuasai oleh I Gusti Agung Maruti.

Kerajaan Gelgel diserang dari segala arah, dan I Gusti Agung Maruti dapat meloloskan diri dan dapat dikejar sampai ke Watuklotok, maka terjadilah perang tanding di Watuklotok antara Kyai Macan Gading dengan I Gusti Agung Maruti. Dalam perang tersebut Kyai Anglurah Macan Gading gugur.

Maka untuk menghormati jasa – jasa beliau dibuatkanlah Pelinggih di Pura Watuklotok dan beliau bergelar Bhatara Mur Ring Watuklotok.

Sepeninggal wafatnya Kyai Anglurah Jambe Pule, kedudukan beliau digantikan oleh putranya dari Prami Kyai Anglurah Jambe Merik sebagai Raja Badung.

2. Kyai Anglurah Jambe Merik Raja Badung II (Tahun 1715 – 1740)

(Puri Alang Badung)

Setelah Prabu Bandana / Kyai Anglurah Jambe Pule wafat, beliau digantikan oleh putranya Beribu Prami yaitu Kyai Anglurah Jambe Merik sebagai Raja Badung II. Beliau mempunyai 5 (lima) orang putra

  1. Kya Jambe Ketewel Beribu Bendesa Ketewel
  2. Kyai Pahang Beribu Ki Pahang (menurunkan Jero Agung Pahang Tegal)
  3. Kyai Ngenjung Nyineb Wangsa di Bekul Penatih
  4. Kyai Agung Jambe Kuta Ubud (Puri Jero Kuta)
  5. Kyai Made Jambe Beribu Pande Karsana Tatasan

(Beliau kita kenal dengan nama Untung Surapati di Pasuruan)

Kyai Jambe Ketewel mempunyai beberapa putra :

  1. Kyai Anglurah Jambe Tangkeban Beribu I Dewa Ayu Tangkeban
  2. I Gusti Ayu Tangeban kawin dengan Anglurah Pemecutan Sakti
  3. I Gusti Ayu Ketut Tangkeban dimohonkan Putri ke Puri Kelungkung
  4. Kyai Wayan Banjar
  5. Kyai Lelangon (menurunkan semeton Jambe Wangaya Kaja)
  6. Kya Dangin (menurunkan semeton Jambe Kayumas Kaja)
  7. Kyai Tatasan (di Taensiat)
  8. Kyai Titih (di Titih)
  9. Kyai Jematang (menurunkan semeton Jambe Pemogan)
  10. Kyai Tangeb (menurunkan semeton Abian Tuwung)

Pada pemerintahan Kyai Anglurah Jambe Merik, pemerintahan berjalan dengan aman dan tentram, beliau memerintah dengan adil dan bijaksana.

3. Kyai Anglurah Jambe Tangkeban Raja Badung ke – III

(Tahun 1740 – 1752) Puri Alang Badung

Sepeninggal Kyai Anglurah Jambe Merik seharusnya yang menggantikan beliau adalah Kyai Jambe Ketewel, tetapi karena Kyai Jambe Ketewel meninggal sebelum beliau sempat menjadi raja, maka putra dari Kyai Jambe Ketewel yang Beribu I Dewa Ayu Tangkeban naik tahta sebagai Raja Badung ke – III

Kyai Anglurah Jambe Tangkeban mempunyai beberapa putra yaitu :

  1. Kyai Anglurah Jambe Aji / Anglurah Jambe Aeng
  2. Kyai Gede Penataran (Jero Taensiat – Jero Dauh Tangluk – Jero Gemeh)
  3. Kyai Ketut Kubon (Jero Wangaya Kaja)
  4. Kyai Dangin Kengetan (menurunkan semeton Jambe Blahbatuh)
  5. Kyai Kunang (menurunkan semeton Jambe Alangkajeng, Buagan, Sading)

Setelah Kyai Anglurah Jambe Tangkeban wafat, beliau digantikan oleh putranya, Kyai Anglurah Jambe Aji / Anglurah Jambe Aeng

4. Kyai Anglurah Jambe Aji / Anglurah Jambe Aeng

Raja Badung ke – IV (Tahun 1752 – 1776) (Puri Satria)

Beliau menggantikan Kyai Anglurah Jambe Tangkeban menjadi Raja Badung ke – IV dan membangun puri baru di sebelah utara dari Puri Alang Badung. Karena disebabkan oleh selalu meluapnya air Tukad Badung, apabila sedang musim hujan dan menggenang sampai ke Puri Alang Badung.

Maka dibangunlah Puri yang amat megah dan dikelilingi kolam yang kita kenal dengan Puri Satria. Beliau juga membangun pura Padarman beserta taman yang indah di sebelah timur dari Puri Satria. Beliau mempunyai putra 4 (empat) yaitu : 3 putra dan 1 putri :

  1. Kyai Anglurah Jambe Kesatria Beribu Putri Pemecutan III
  2. Kyai Made Jambe Beribu Warih Pande (Puri Alang Badung)
  • Kyai Jambe Anom Beribu Tangkas Kori Agung (Puri Jero Kuta)
  • I Gusti Ayu Jambe kawin dengan I Gusti Ngurah Made Pemecutan pendiri Puri Denpasar

Setelah tiba saatnya beliau mangkat, kedudukan sebagai raja Badung digantikan oleh Putra beliau Kyai Anglurah Jambe Kesatria.

5. Kyai Anglurah Jambe Kesatria Raja Badung V

(Tahun 1776 – 1780) Puri Satria

Kyai Anglurah Jambe Kesatria naik tahta sebagai Raja Badung ke-V menggantikan ayahanda beliau termasuk yang paling singkat selama 4 tahun, karena pada masa pemerintahan beliau terjadi kekacauan karena adanya pertikaian antara Kyai Anglurah Jambe Kesatria dengan Kyai Ngurah Rai dari Puri Kaleran Pemecutan. Dan puncak dari kekacauan tersebut dengan gugurnya Kyai Anglurah Anglurah Jambe Kesatria (Raja Badung ke-V)

Dengan gugurnya Kyai Anglurah Jambe Kesatria maka melemahlah Puri Kesatria dan Puri Alang Badung ditambah lagi dengan banyaknya para Warih Jambe dan Pengabih Setia beliau yang gugur dalam perang tersebut.

Di dalam situasi tersebut banyak para Warih jambe yang menyelematkan diri termasuk adik Kyai Anglurah Jambe Ksatria yaitu Kyai Made Jambe / I Gusti Made Jambe, setelah beliau menyelematkan beberapa pusaka – pusaka kerajaan beliau menyelamatkan diri menuju arah selatan, karena beliau orang yang paling dicari setelah raja gugur. Setelah beliau menitipkan putranya yang masih kecil di Desa Pecatu kemudian Kyai Made Jambe / I Gusti Made Jambe beserta para Warih Jambe dan pengikut setia yang masih tersisa menuju Pura Tukad Nangka. Dan disinilah terjadi perang besar antara Pasukan Kyai Ngurah Rai dengan Kyai Made Jambe / I Gusti Made Jambe, tetapi karena lindungan Bhatara yang berstana di Pura Tukad Nangka Kyai Made Jambe / I Gusti Made Jambe tidak terlihat oleh pasukan Kyai Ngurah Rai, maka terhindarlah beliau dari pembunuhan tersebut. Tetapi banyak juga para Warih Jambe yang gugur dalam perang tersebut.

Kemudian I Gusti Made Jambe melanjutkan perjalanan ke selatan menuju Gunung Kukus / Goa Gong, entah berapa lama beliau disana dan setelah situasi sudah tenang beliau turun menuju Desa Jimbaran dan tempat yang dituju adalah Pura Ulun Suwi Jimbaran.

Di Pura Ulun Suwi Jimbaran inilah beliau menunggu para Warih Jambe dan pengikut setia yang masih tersisa untuk menyusun rencana merebut kembali Puri Satria dan Puri Alang Badung. Tapi mungkin sudah kehendak Ida Hyang Widhi Wasa, rencana I Gusti Made Jambe tidak mendapat restu dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Ulun Suwi Jimbaran dan ditambah lagi laporan dari para telik sandi yang membawa khabar bahwa Puri Satria dan Puri Alang Badung sudah dihancurkan oleh pihak musuh.

Dan dengan perasaan yang sangat sedih akhirnya I Gusti Made Jambe memutuskan untuk berpisah dengan para Warih Jambe untuk menyebar ke seluruh Bali, tetapi tidak sedikit yang kembali ke Badung dengan nyineb wangsa supaya tidak dikenali. Putra I Gusti Made Jambe yang dititipkan di Desa Pecatu, dengan diantar oleh pengabih beliau diserahkan ke Puri Pemecutan, kemudian Anglurah Pemecutan memberikan tempat di sebelah selatan Puri Pemecutan yang kita kenal sekarang dengan Puri Jambe Celagi Gendong sekarang.

Sebelum berpisah dengan para Warih Jambe, I Gusti Made mengatakan bahwa pada suatu saat nanti para Warih Jambe akan bertemu lagi.

Dengan disertai para pengikut setia beliau, I Gusti Made Jambe berjalan menuju arah barat (dalam beberapa buku sejarah Badung dan Babad Badung disebutkan I Gusti Made Jambe pergi ke Jawa.

Dalam perjalanan ke arah barat sampailah beliau di Desa Kaba – Kaba, salah satu Warih Jambe tidak bisa melanjutkan perjalanan dan menetap disana dan kemudian menurunkan semeton Jambe Abian Tuwung.

Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi, sampailah di Desa Bedeha, kemudian disinilah beliau mengambil istri dari Soroh Desak yang kemudian diajak dalam perjalanan tersebut. Serta keluarga dari istri beliau juga ikut dalam perjalanan tersebut.

Tidak disebutkan berapa lama beliau dalam perjalanan akhirnya beliau sampailah di Pura Rambut Siwi, disinilah beliau memohon petunjuk dari Ida Bhatara yang berstanda di Pura Rambut Siwi, akhirnya beliau mendapat petunjuk agar I Gusti Made Jambe pergi menuju Desa Banjar menghadap kepada Ida Pedanda Geria Gede Kemenuh Banjar sebagai Penguasa Desa Banjar dari Pura Rambut Siwi inilah beliau merobah arah perjalanan ke utara menuju Desa Banjar Buleleng.

Dengan perjalanan yang sangat berat melewati bukit – bukit dan beberapa pura yang beliau lewati, akhirnya sampailah beliau di Desa Banjar Buleleng dan menghadap kepada Ida Pedanda Geria Gede Kemenuh Banjar, disana beliau menyampaikan asal dan tujuan kedatangan beliau ke Desa Banjar, kemudian Ida Pedanda Geria Gede Kemenuh Banjar memberikan tempat tinggal untuk I Gusti Made Jambe di Bencingah Pura Melanting Banjar berdekatan dengan Geria Gede Kemenuh Banjar. Disinilah I Gusti Made Jambe tinggal dan menurunkan keturunan yaitu Warga Ageng Pucangan Banjar.

Dan atas pertimbangan dari Ida Pedanda Geria Gede Kemenuh Banjar nama I Gusti Made Jambe diganti menjadi I Gusti Made Kaler untuk menghilangkan jejak beliau. Tetapi kalau diartikan kata kaler artinya utara yaitu perjalanan ke utara.

Kembali pada apa yang disampaikan oleh I Gusti Made Jambe kepada para Warih Jambe pada saat akan berpisah di Pura Ulun Suwi Jimbaran, beliau mengatakan pada suatu saat nanti para Warih Jambe akan bertemu lagi. Dan apa yang dikatakan oleh I Gusti Made Jambe sekarang sudah terbukti kebenarannya, karena pada bulan April tahun 2013 para Warih Jambe bertemu untuk pertama kalinya di Bali Hotel yang dihadiri oleh + 250 orang Warih Jambe.

Pertemuan tersebut diprakarsai oleh A. A. Ngurah Rai Iswara (Puri Jambe Celagi Gendong) dan I. K. S. Narendra Putra Pucangan (Warga Ageng Pucangan Banjar)

Pada pertemuan tersebut disepakati oleh para Warih Jambe untuk membentuk paiketan semeton dengan nama : Pasemetonan Jambe se-Bali dan puncaknya paiketan ini dikukuhkan pada tanggal 5 mei 2013 oleh Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan, SH dan Ida Dalem Semara Putra dan seterusnya tangggal 5 Mei 2013 sebagai hari lahir Pasemetonan Jambe se-Bali.

Dengan teriring waktu sampai saat ini Pasemetonan Jambe se-Bali di tahun 2020 ini sudah menginjak tahun ke-VII dan sudah beranggotakan 825 KK. Tersebar di seluruh Bali dengan 15 Moncol Semeton.

  1. Puri Jambe Celagi Gendong (Denpasar)
  2. Warga Ageng Pucangan, Banjar (Buleleng)
  3. Puri Jambe Kaliungu (Denpasar)
  4. Puri Jambe Suci (Denpasar)
  5. Jero Belas Kuta (Badung)
  6. Semeton Jambe Wangaja Kaja (Denpasar)
  7. Semeton Jambe Alangkajeng (Denpasar)
  8. Semeton Jambe Buagan (Denpasar)
  9. Semeton Jambe Abiantuwung (Tabanan)
  10. Semeton Jambe Gemeh (Denpasar)
  11. Semeton Jambe  Blahbatuh (Gianyar)
  12. Semeton Jambe Buahan (Tabanan)
  13. Semeton Jambe Kayumas Kaja (Denpasar)
  14. Semeton Jambe  Sading (Badung)
  15. Semeton Jambe Pemogan (Denpasar)

Tujuan dibentuknya Pasemetonan Jambe se-Bali :

  1. Menyambung lagi tali silahturahmi sesama Warih Jambe yang sudah berpisah selama ratusan tahun dari tahun 1780, akibat dari pertikaian semeton yang mengakibatkan runtuhnya Puri Satria dan Puri Alang Badung
  2. Untuk menegaskan bahwa Warih Jambe keturunan Kyai Anglurah Jambe Merik itu masih ada dan tergabung dalam satu Paiketan dengan nama Pasemetonan Jambe se-Bali
  3. Untuk memahami sejarah perjalanan leluhur yang benar guna meningkatkan bakti kita terhadap Bhatara Kawitan
  4. Memelihara hubungan yang harmonis dengan paiketan pasemetonan yang telah ada, demi meningkatkan kesejahteraan semeton khususnya masyarakat pada umumnya.

Kesepakatan dan keputusan Pasemetonan Jambe se-Bali

  1. Perjalanan kehidupan para Warih Jambe keturunan Kyai Anglurah Jambe merik yang tergabung dalam pasemetonan Jambe se-Bali yang penuh liku yang diakibatkan oleh sejarah kelam pertikaian antar semeton berakibat rnutuhnya puri Satria dan puri Alang Badung pada tahun 1780, yang menyebabkan hampir 75% anggota pesemetonan Jambe se-Bali telah nyineb wangsa dan menyebar di beberapa tempat di Bali.
  2. Kami sangat memahami keputusan para leluhur – leluhur kami untuk mengambil keputusan tersebut, yang tidak lain hanya untuk dapat menurunkan kelangsungan Warih Jambe.
  3. Bagi kami sejarah kelam dan keputusan para leluhur kami untuk nyinep wangsa itu sudah merupakan kehendak dari Ida Hyang Widhi Wasa yang harus dijalani oleh para Warih Jambe yang tergabung dalam pesemetonan Jambe se-Bali.
  4. Kami pun telah sepakat dengan seluruh anggota pasemetonan Jambe se-Bali tidak akan merobah dan menghormati apa yang telah diwarisi oleh para leluhur – leluhur kami yang berkaitan dengan keputusan nyinep wangsa
  5. Yang utama bagi kami di pasemetonan Jambe se-Bali bahwa tidak dipungkiri darah yang mengalir dalam tubuh kami adalah darah Jambe “Getih Abumbung” Warih Kyai Anglurah Jambe Merik.
  6. Kamipun telah sepakat dengan seluruh anggota pasemetonan Jambe se-Bali di dalam membawa Paiketan ini selalu menjaga hubungan yang baik dan harmonis dengan Paiketan Semeton yang telah ada

PENULIS :

I.K.S. Narendra Putra Pucangan, SH. (Ketua Harian Pasemetonan Jambe se-Bali)

Dr. A.A.Ngr.A. Wira Bima Wikrama, ST.,M.Si. (Wakil Ketua Pasemetonan Jambe se-Bali, Puri Agung Denpasar)

Silsilah Warih Jambe
Susunan Pengurus Pasemetonan Jambe se-Bali
Foto Ketua Umum (Drs.A.A.Ngr. Rai Iswara, M.Si., Kanan) dan Ketua Harian (I.K.S. Narendra Putra Pucangan, SH., Kiri) Pasemetonan Jambe se-Bali
Foto Wakil Ketua (Dr.A.A.Ngr.A. Wira Bima Wikrama, ST.,M.Si., Kiri) dan Ketua Harian (I.K.S. Narendra Putra Pucangan, SH., Kanan) Pasemetonan Jambe se-Bali
Foto Pengukuhan Pengurus Pasemetonan Jambe se-Bali Oleh Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan, SH., Pada Tanggal 5 Mei 2013 di Pura Satria Denpasar
Foto Pengesahan Kepengurusan Pasemetonan Jambe se-Bali Oleh Ida Dalem Semara Putra di Puri Agung Klungkung
Foto Tangkil di Pura Batur Pucangan, Buahan, Tabanan, Setelah Pengukuhan Pengurus Pasemetonan Jambe se-Bali Tahun 2013.
Foto Acara Ulang Tahun Pasemetonan Jambe se-Bali VI di Pemerajan Jambe Alang Badung, Pada 5 Mei 2019
Foto Bersama Dalam Acara Ulang Tahun Pasemetonan Jambe se-Bali VI di Pemerajan Jambe Alang Badung, Pada 5 Mei 2019